Selasa, 05 Februari 2013

Naskah Drama



Hari Yang Memalukan
          

       Di  suatu sekolah terdapat murid yang bernama Intan. Ia selalu mendapat nilai yang baik. Tetapi ternyata nilai itu palsu, karena ia selalu menyontek kepada temannya yang pintar. Padahal teman-temannya sudah gerah dengan ulahnya, tetapi mereka tidak mau berurusan dengan Intan. Karena ia adalah anak dari kepala sekolah di SMP tersebut.
Dan seperti biasa, Intan mulai menyalin PR fisika milik temannya saat jam istirahat pertama di hari Rabu ini. Namun, hari ini Intan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga untuk mengubah kebiasaan buruknya tersebut.
Intan  : “Ya ampun, gue lupa bikin PR fisika. Udah gitu, yang ngajar Pak Imam lagi. Bisa dihukum nanti gue, kalo gak ngerjain PR.” (gumamnya di tempat duduk saat bel istirahat berbunyi)
Tanpa berpikiran untuk jajan ke kantin, Intan menghampiri tempat duduk Tiara. Tiara memang terkenal paling pintar di kelas mereka.
Intan  : “Udah ngerjain PR fisika belum, Tir?”
Tiara  : “Udah, emang kenapa?” (Tiara yang sudah tahu akan kebiasaan Intan pun berpura-pura tidak mengerti)
Intan  : “Lo kayak ga tau aja sih, Tir.”
Tiara  : “Mau nyontek lagi?”
Intan  : “Yaiyalah, Tir.. Gemana sih! Dikira mau berenang apa!”
Tiara  : “Sampai kapan sih Tan kamu nyontek terus?”
Intan  : “Tir, lo kok kaya ga tau aja sih alasannya.”
Tiba-tiba Farah datang menghampiri Tiara dan Intan.
Farah : “Karena lo anak kepsek, yang harus selalu mendapatkan nilai bagus biar gak malu-maluin? Sadar dong Tan, perbuatan lo itu lebih memalukan dibandingkan lo harus dapat nilai jelek.”
Intan  : “Apaan sih Far, ini tuh ga ada urusannya sama lo! So, ga usah ikut campur deh!” (Intan kesal)
Dinda, Lulu dan Romi yang sedang membaca buku di kelas tentunya mendengar keributan tersebut dan merasa terganggu. Akhirnya mereka datang ke tempat duduk Tiara.
Dinda : “Ada apaan sih ribut-ribut? Bisa pelan gak sih ngomongnya?” (Dinda kesal sambil memukul meja)
Lulu   : “Din, lo ga liat apa, ada ‘Ratu Nyontek’ tuh!” (sindir Lulu sambil melirik Intan)
Romi : “Oh iya, mau ngapain lagi sih lo Tan? Masih mau nyontek sama Tiara?” (Romi memicingkan matanya ke arah Intan)
Intan : “Iya, emang napa? Ga boleh? Suka-suka gue dong! Lagipula gue kan mau nyontek ke Tiara bukan lo-lo pada!” (tantang Intan)
Tiara : “Yasudahlah, aku kasih aja buku PR ini ke Intan daripada ribut.” (renung Tiara)
Romi : “Memang ya, kebiasaan buruk itu susah diilangin. Huh..” (gumam Romi)
Lulu  : “Tiara, kok lo masih mau sih temenan sama Intan? Iih.. kalo gue sih ogah banget ya, secara.. dia kan ‘Ratu Nyontek’!” (sindir Lulu)
Tiara : “Sudah-sudah.. Kalian marah-marahnya nanti aja deh, pusing aku dengernya. Dan ini terakhir kalinya ya Tan aku kasih contekan ke kamu dan bukan berarti aku ngebelain kamu.” (kata Tiara sambil memberikan buku PR fisikanya kepada Intan)
Intan : “Thanks ya, Tir. Lo emang temen gue yang paling oke!” (puji Intan sambil mengancungkan jempolnya kepada Tiara)
Bel masuk berbunyi, para siswa memasuki kelasnya masing-masing. Siswa kelas VIII-1 sudah duduk dengan rapi dan tertib sejak awal, karena Pak Imam guru pelajaran fisika mereka terkenal sangat tertib dan bijaksana. Beliau tak segan-segan menghukum semua siswa termasuk Intan anak kepala sekolah, jika melakukan kesalahan sedikitpun. Karena itu Intan sangat tidak menyukai Pak  Imam.
Pak Imam       : “Selamat pagi, Anak-anak..”
Seluruh siswa : “Selamat pagi, Paak..”
Pak Imam    : “Apakah kalian sudah mengerjakan PR yang bapak berikan kemarin?”
Seluruh siswa : “Sudah, Paak..”
Pak Imam        : “Akan tetapi, hari ini kita tidak akan membahas PR kemarin.”
Lulu                 : “Yah, Bapak.. Percuma dong gue buat PR.” (keluh Lulu dalam hati)
Intan                   : “Kalo tau gini mah, ngapain gue susah-susah nyontek sama Tiara, sampe harus berdebat sama dua orang yang menyebalkan itu” (Intan mendesah dalam hati)
Pak Imam         : “Karena hari ini Bapak akan mengadakan post test
Seluruh siswa tampak terkejut, tetapi mereka tidak ada yang berani protes terkecuali Intan.
Intan         : “Pak, kok mendadak gini sih, kan kita belum siap Pak.” (protes Intan dengan beraninya)
Dinda       : “Pasti Intan takut gak dapet contekan tuh kali ini.”  (pikir Dinda)
Pak Imam : “Siap tidak siap, kalian tetap harus mengerjakan post test yang bapak bagikan ini. Ingat! Waktu mengerjakannya hanya satu jam pelajaran, berarti sampai bel pergantian pelajaran, jadi kalian harus menggunakan waktu ini sebaik mungkin.” (sambil membagikan selembar soal)
Seluruh siswa tampak mengeluh saat mengerjakan soal, walau tak bisa mengungkapkan kekeluhannya dengan kata-kata. Dan tentu saja Intan hanya tercengang-cengang melihat soal-soal yang tidak ia mengerti sama sekali. Hingga waktunya tiba untuk mengumpulkan soal tersebut.
Tiga puluh menit kemudian
Pak Imam      : “Waktu tinggal lima menit lagi, pastikan kalian sudah menulis nama dan nomor absen kalian di tempatnya.”
Seluruh siswa : “Iya, Paak..”
Pak Imam       : “Mudah-mudahan post test kali ini tidak ada yang nyontek, nilainya asli semua.” (harapan hati seorang guru)
Intan                : “Aduh, bisa gawat nih.. Kacau-balau dah entar nilai gue. Gue kan belum ngerjain apa-apa. Oh iya gue nyontek Tiara aja ya diem-diem, dia kan gak bakal tau, hehehe” (dengan niat liciknya, Intan pun melihat hasil kerja Tiara tanpa disadarinya)
Pak Imam      : “Intan Anyelir Nursan!” (teriakan Pak Imam saat melihat gerak-gerik Intan yang mencurigakan)
Intan                : “Sa.. sa.. saya, Pak.” (dengan gugupnya menatap Pak Imam)
Pak Imam          : “Apa yang kamu lakukan tadi, Intan? Kamu mencoba menyontek ya?” (bentak Pak Imam dengan ganas)
Farah               : “Dari dulu kalee.. Dia tukang nyontek.” (dalam hati)
Intan                : “Tidak, Pak. Eem.. Saya tadi..” (elak Intan)
Farah      : “Pasti mau nyontek lah, Pak.” (cibir Farah, memotong percakapan mereka)
Dinda         : “Betul banget tuh Pak, dia kan ‘Ratu Nyotek’ di sekolahan ini, Pak.” (tambah Dinda)
Romi          : “Cukup tau deh yang anak kepsek, tapi jangan mentang-mentang gitu dong..” (ironi)
Pak Imam : “Sudah-sudah, diam semua! Intan, apa benar kamu menyontek?”
Intan         : “Be.. nar, Pak” (dengan malunya)
Pak Imam : “Kamu tahu kan hukuman bagi siswa yang menyontek di pelajaran saya?”
Intan           : “Tahu, Pak. Akan mendapat nilai 0, dan orang tuanya akan dipanggil. Tapi kan bapak saya kepala sekolah disini, Pak.” (keluh Intan sambil tetap membela diri)
Pak Imam : “Semua murid Bapak perlakukan sama. Sanksi harus tetap dijalani setiap murid yang bersalah, tanpa mengecualian. Jadi kamu sudah tahu kan apa yang harus kamu lakukan setelah pulang sekolah nanti?”
Intan        : “Tapi, Pak.. Saya mohon, jangan panggil bapak saya. Kasihan Pak, beliau harus menanggung malu karena saya” (pinta Intan hingga matanya berlinang)
Pak Imam : “Kalau kamu tahu akhirnya akan berujung seperti, mengapa kamu lakukan hal itu?” (Pak Imam agak kasihan melihat tampang melasnya Intan)
Intan           : “Saya terpaksa, Pak. Karena saya tidak mau mendapatkan nilai jelek dan mengecewakan orang tua saya, apalagi bapak saya seorang kepala sekolah disini. Pasti beliau akan malu jika mempunyai anak yang selalu mendapat nilai jelek.” (jelas Intan)
Bel pergantian jam pelajaran berbunyi.
Pak Imam : “Yasudah, kali ini saya maafkan. Tapi kamu jangan mengulanginya lagi ya. Oke, karena jam bapak sudah habis, kumpulkan post test kalian!”
Intan          : “Makasih, Pak. Saya berjanji tidak akan menyontek lagi.” (seru intan)
Sejak kejadian tersebut, Intan tidak mau menyontek lagi. Dan sejak itulah, Intan berubah menjadi anak teladan yang disukai teman-temannya. Ia juga lebih berprestasi dengan nilai aslinya yang sekarang, dibanding sebelumnya. Tentu ia sudah menbanggakan kedua orang tuanya.

0 komentar:

Poskan Komentar